21 Januari 2014

Januari 2014 adalah satu masa yang membuat saya tidak ingin ke mana-mana, tidak melakukan apa-apa.

Suatu pagi tiba-tiba kami terdampar di rumah sakit dan memulai ritual ketidakpastian untuk 12 hari selanjutnya. Menunggu di depan ruang ICU, menjenguk ke dalam bila memungkinkan, dan selalu bertanya-tanya masihkah ada harapan. Dalam waktu 12 hari tersebut saya menjadi sangat religius. Berkomunikasi intens denganNya untuk 1 masalah utama yang berkecamuk di benak saya : ‘Tuhan, apa yang harus saya inginkan untuknya? Kematian atau kehidupan?’.

Berharap kematian sepertinya menunjukkan kalau saya tidak sayang padanya. Tapi setelah perjuangan bertahun-tahun, serangan berkali-kali, saya tahu ini mungkin sudah puncaknya. Tubuhnya lelah, semangatnya nyaris tak ada. Serangan kali ini mematahkan semua yang ada padanya, juga mematahkan kami.

Lalu suatu pagi akhirnya saya pulang ke rumah dengan sedikit ringan. Keluar ICU, ke ruang biasa, harapan! Tapi di perjalanan pulang sebuah sms membuyarkannya. Kembali ke rumah sakit dengan tergesa-gesa, ‘wait for me, please. wait for me. don’t go now, wait for me’.

Kematian. Beberapa lama setelah kembali ke sisinya, nafasnya lebih tenang dari hari sebelumnya. Semakin tenang, semakin tenang, lalu menghilang. Siang itu langit menangis, siang itu ibuku juga menangis.

Dari lantai 2, mobil jenasah terlihat mendekati gedung. Hari itu kami pulang. Mengantar bapak menuju peristirahatan terakhir.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>